marketing,  tips

3 Hal yang Harus Dilakukan Marketing


Aku tidak akan pernah bosan mengatakan kalau jadi marketing itu gak gampang juga gak sulit. Gak Cuma modal ngomong dan attitude yang baik, namun marketing itu harus pintar dalam segala hal. Pun, marketing itu harus rendah diri. Setiap harinya harus belajar dan belajar. Bahkan temuan apa pun di lapangan jadikan sebagai bahan pembelajaran.

Untuk kali ini aku akan membahas 3 hal yang harus dimiliki seorang Marketing :

1.      Eigyouryoku – Sales Force – Merancang Strategi Penjualan
Segala sesuatu itu memang harus direncanakan dong ya biar tujuan kita setidaknya tidak melenceng dan terarah. Apalagi marketing harus punya perencanaan yang matang. Gak bisa dong asal menawarkan produk, yang penting terjual. Iyah, kalau terjual. Lah, kalau nggak? Duh, waktu, usaha, modal, kan jadi sia-sia tuh. Sebaliknya dengan perencanaan dan strategi yang dibuat akan meminimalisir yang namanya “muda” atau kesia-siaan yang nantinya malah buntung bukannya untung.



Berikut ini egyouryoku yang harus dilakuakn :

Perencanaan :
ü  Apa yang akan dijual
ü  Siapa sasarannya
ü  Berapa modalnya
ü  Berapa harganya
ü  Berapa keuntungannya
ü  Barang ready atau PO
ü  Proses Pengiriman

Strategi :
ü  Manfaatkan media sosial
ü  Galeri/Toko/PT – Memiliki tempat khusus untuk berjualan lebih bagus.
ü  Mendatangi pelanggan secara langsung (face to face)
ü  Membuat strategi saat menghadapi costumer. Ini juga perlu digaris bawahi karena setiap orang kan memiliki sifat berbeda. Marketing setidaknya memahi dasar psikologi. Misal, menghadapi orang cuek, orang ramah, tentunya berbeda. Jangan sampai saat pelanggan memiliki sifat yang ketus atau terkesan merendahkan produk kita, ikutan emosoi juga, itu malah akan memperburuk keadaan. Marketing itu harus bijak dan sabar.

Perencanaan dan strategi di atas gak beda jauh ko dengan rumus 5W+1H. Gak hanya dipelajaran bahasa Indonesia saja. Bahkan seorang writer pun harus mengacu pada rumus tersebut. Buat mempermudah dan lebih fokus.

2.      Handanryoku – Judgement – Keputusan, Pendapat, Pertimbangan


Jika perencanaa sudah matang, proses selanjutannya adalah handanryoku. Hal ini bakalan berlaku saat berkomunikasi dengan pelanggan. Kenapa? Karena akan lebih mudah dalam membuat keputusan seperti dalam urusan melobi harga. Atau menghadapi pelanggan yang suka tarik-ulur soal harga, di sini suka diuji banget nih. Gak sekali dua kali menemukan pelanggan yang sering melakukan tarik-ulur demi mencapai tujuannya. Namun, aku juga gak kalah egoisnya dengan tetap memegang keputusan yang sudah dibuat yang telah dipertimbangkan sebelumnya si tentunya.


ü  Keputusan, mengenai lobi harga. Bagaimana keputusan yang baik dari seorang marketing. Baiknya, tidak langsung mengiyakan. Namun, tidak boleh juga langsung menolak. Yah, kan namanya juga melobi.

ü  Pendapat, Coba deh tanyakan pendapat si pelanggan. Kenapa minta diskon? Berapa diskon yang diinginkan.

ü  Pertimbangan, Baru deh mempertimbangkan hasilnya. Keputusannya A, B atau C. Untuk keputusan akhir sebisa mungkin berikan juga alasannya. Seperti sepakat memberi diskon, dengan quantity pembelian barang sekian. Atau diskon berlaku untuk hari itu saja. Kalau tidak ada diskon, berilah penjelasan yang masuk akal dan bisa diterima oleh pelanggan.

Mengenai diskon sebisa mungkin jangan terlalu besar ya. Justru itu akan membuat memberikan kesan bahwa produk kita itu aslinya murah. Kecuali kalau memang mau kasih diskon bonus akhir tahun dan hari-hari besar lainnya.
Mengenai tarik-ulur yang tertulis di atas. Selain pelanggan, marketing juga harus tarik-ulur loh. Terkadang ada pelanggan yang sama sekali tidak butuh produk kita. Padahal sebelumnya antusias banget. Ini biasanya karena harga tak sesuai kantong. Jika seperti itu tetap melakukan komunikasi. Karena dikemudian hari kemungkinan pelanggan itu membutuhkan produk yang kita jual. Dalam dunia marketing juga ada timing-nya. Terkadang itu malah tak terduga. Aku sering mengalami hal seperti ini. Dan akhirnya suka gemas sendiri kalau mendengar curhatan customer mengenai produk sebelumnya tak bekerja maksimal. Intinya, memang ada waktunya marketing, membiarkan dulu pelanggan yang seperti itu.
3.      Kidouryoku – Dorongan – Motive Force – Activation Force


Seorang marketing memang harus memiliki tekad yang kuat karena dengan tekad itu akan mendorong diri sendiri untuk mencintai produk sendiri. Jika sudah cinta, dengan sendirinya akan tumbuh keyakinan tentang kelebihan produk sendiri yang tidak ada bandingannya. Termasuk keyakinan diri sendiri untuk selalu percaya diri saat menjual produk. Jika tekad sudah kuat, dorongan itu akan mentransfer ke pelanggan untuk mendengarkan maksud, produk yang ditawarkan, sehingga muncul ketertarikan atas produk yang ditawarkan.

Jika ada sample, berikanlah. Kalaupun tidak ada, dengan demo langsung akan mudah mendorong pelanggan untuk tertarik terhadap produk yang dijual. Ya, biarkan pelanggan merasa tertarik juga. Karena jika sudah tertarik, walaupun menjelaskan kekurangannya, justru malah membuat pelanggan lebih memahami penggunaan produk yang ditawarkan.
Seperti membeli peralatan elektronik, yang aku yakini jarang ada orang yang membaca buku panduannya. Sehingga saat ada kerusakan, yang disalahkan pertama kali adalah produknya. Padahal, bisa saja cara penggunaannya yang salah.
Nah, sebagai marketing, agar pelanggan tidak kabur kelebihan dan kekuranggannya harus dijelaskan juga. Karena, berdasarkan pengalaman dengan menjelaskan kekurangannya menjadi lebih mengerti tentang produk. Tak perlu khawatir pelanggan jadi membeli atau tidak. Karena itu akan dikembalikan lagi ke marketingnya.
Sebagai contoh, aku menjual produk chemical. Adaa salah satu produk yang baunya lumayan menyengat, namun secara pemakaian sangat bagus dan praktis. Sempat customer meminta produk lain yang tidak berbau. Tentu saja aku kasih yang lain, namun ternyata lebih suka dengan produk yang sebelumnya. Hanya permasalahan bau saja. Sebagai marketing aku menjelaskan bahwa produk chemical berbau lebih bagus. karena dengan itu kita bisa tahu penangannya. Bisa pakai masker untuk menghindari bau. Bahkan walaupun semua produk aku bebas dari SoC Free. Tetap saja yang namanya kimia ada efek sampinya. Mendengar penjelasan seperti itu customer akhirnya tetap memakai produk sebelumnya.
Nah, dari kasus di atas. Sebagai marketing harus bisa memberikan jawaban atas kekurangan produk. Terpenting jang berbohong karena kejujuran juga berlaku dalam dunia bisnis.

Ketiga hal di atas harus dimiliki seorang marketing untuk memudahkan pekerjaan dalam menjual produk, mempertahankan pelanggan lama dan pelanggan baru. Satu hal yang harus ditekankan jadilah marketing yang jujur. Menawarkan barang apa adanya, jangan sampai dilebih-lebihkan. 

Pecinta coklat / buku/ Sedang mengejar mimpi untuk keliling Indonesia. Blog ini merupakan salah satu wadah menuangkan kisah-kisah perjalananku.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.