• #FFRabu,  100 kata,  Flash Fiction,  Restu

    #FFKamis – Melepas Anak Ku

    “Mba, gimana sudah yakin?” Ayal tanya Mbah Sri yang pasti meragukan niatku lagi. Wajahnya pun menandakan tak yakin. Ya, aku bisa memakluminya karena ini yang ketiga kalinya aku datang ke sini. Namun untuk kali ini aku sudah menggenapkan hati, tak…

  • #FFRabu,  Flash Fiction,  Tomoyo Jikan

    #FFRabu-Damn!

    Kali ini aku berjalan dengan gaun biru dan high heels 7cm. Hembusan angin menerbangkan sebagian rambut yang tergerai. “Hey, ganteng. Apa kau sudah siap?” “Seperti yang kakak lihat.” Gaun, high heels, tidak pernah nyata. Tidak akan sampai kakak perempuanku menerima…

  • #FFRabu,  Flash Fiction,  Tomoyo Jikan

    #FFRabu-Tanpa Papan Tulis & Kapur

    Entah sejak kapan aku ingin menjadi seorang guru SD. Namun mimpi itu kandas semenjak Tuhan berkehendak lain. Dengan sisa kekecewaan aku masih bisa bersyukur karena 5 anak SD yang setiap sore datang ke rumah selalu ceria. Dibandingkan kapsul putih besar…

  • #FFRabu,  Flash Fiction,  Tomoyo Jikan

    #FFRabu – Sang Bayangan

    Ini adalah tahun keempat dia pergi ke gereja dan selalu ditanggal yang sama yaitu, 4 April.  Gaun putih yang menghiasi lekuk tubuhnya terlihat memuakkan. Bagaimana bisa seseorang yang ditinggal mati di hari pernikahannya selalu melakukan hal bodoh setiap tahun.  Aku…

  • #FFRabu,  Flash Fiction,  Tomoyo Jikan

    #FFRabu – Anak Bodoh

    Hari ini pun aku melihat mereka tengah berkumpul di atap gedung. Tentunya itu bukanlah hal yang bagus.  “Hey, bocah bodoh apa yang kau lakukan di sini?” “Apa kau mau loncat? Ah, orang seperti kau pasti takut kn. Takut kakimu patah.”…

  • #FFRabu,  Flash Fiction,  Tomoyo Jikan

    #FFRabu – Hilang

    Di dunia ini ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang dan hal itulah yang membuatku menjadi seorang suami yang tidak berguna.  “Putri bunda yang cantik gaun Cinderellanya sudah jadi loh, sesuai janji bunda hari ini, putri bunda akan jadi…

  • #FFRabu,  Flash Fiction,  Tomoyo Jikan

    #FFRabu – Melukis Langit

    Saat gundah, Sora pergi ke bukit di Shirakawa Go. Merebahkan tubuhnya diatas rumput hijau. Alunan syahdu ranting pepohonan saling beradu tertiup angin.  “Hey, langit, kali ini pun aku menorehkan tinta kegagalan diatas kanvas mu, aku kesal, kenapa aku tidak berkembang…