Menampilkan 60 Hasil
#FFKamis Flash Fiction Writing

#FFKamis – Katak dan Matahari

“Hai, Katak kenapa wajahmu muram? Lihat! Langit sangat cerah.” “Aku sedih Matahari.” “Apa yang membuatmu sedih? Apa karena cedera itu? Atau karena kaum kalian sedang berjuang mencari keadilan dari sang Raja, agar kaum ular tak semena-mena lagi memangsa kalian?” “Tidak Matahari! Aku sedih karena tidak bisa ikut demo.” “Loh, bukankah itu baik Katak? Jika kau …

#FFKamis Flash Fiction Writing

#FFKamis – 12.30

  Sumber di sini Saat kamu mengajak bertemu, hatiku bergejolak tak karuan. Jarum jam yang berada di angka 12 dan 6 menumbuhkan kegundahan. Firasatku mengatakan hal buruk akan terjadi. Mengingat, akhir-akhir ini kita tak lagi sama walau bersama. “Aku mau kita putus.” Ungkapmu tanpa basa-basi.  Membuat jantungku semakin bergemuruh. Ribuan jarum memeluk kegundahan dan tanpa …

#FFKamis Flash Fiction Writing

#FFKamis – Pulang Kampung

Setelah lima tahun jadi TKW di Malaysia. Kini aku kembali ke ibu pertiwi. Negeri yang selalu dirindukan. “Mang, ke Desa Tanjungkerta ya.” Pintaku pada Mamang Ojek. Ternyata tidak banyak berubah selain jalan yang tambah mulus. Membuatku makin tak sabar bertemu ibu dan bapak. “Teh, mau lihat pembangunan waduk ya?” Tanyanya setelah seperempat jalan. “Waduk? Saya …

#PestaFiksi04 Flash Fiction Writing

Gadis Penenun Dusta

gbr by Carolina Ratri “Bu, ade belajar di kosan Tri ya, ada tugas kelompok. Sekalian menginap boleh?” “Boleh. Hati-hati ya.” Minggu berikutnya… “Bu, Tri sakit. Dia sendirian di kosan, boleh aku temani?” “Boleh. Ibu doakan cepat sembuh. Salam dari ibu.” Si bungsu sudah dua bulan ini sering menginap di kosan Tri, teman SMA-nya. Entah karena …

Puisi Writing

Kita & Hujan yang Terpisahkan

Ingatkah setiap pertemuan kita? Selalu rintik hujan menyambut kehangatan Kenapa, selalu hujan? Langit mentertawaiku Nihil. Tak ada jawaban Mungkin hujan memang menyukai kita Tapi, Kamu tahu Aku tak begitu menyukainya Karena hadirnya selalu menciptakan kengerian Petir yang menggelegar Kilat yang membelah ketenangan Kamu sangat tahu itu Walau, Dadamu yang bidang siap mendekapku Sekejap aku tenang …

#FFKamis Flash Fiction Writing

#FFKamis – Pulang

Sebagai anak rantau bertemu sanak saudara saat lebaran adalah hal yang paling aku nantikan. Sudah lima tahun ini mudik menjadi tradisi yang tak terlewatkan meski harus puluhan jam bercumbu dengan kemacetan. Rencananya tahun ini aku memutuskan lebaran di Jakarta saja. Namun rasa rindu pada ayah dan ibu tak mampu kubendung lagi. Tibalah aku berjumpa dengan …

#FFKamis Flash Fiction Writing

#FFKamis – Gadis di Penghujung Musim Hujan

Sumber gbr : https://www.inspirasi.co Di bawah tetesan gemercik hujan aku berjumpa dengannya. Gadis cantik yang menyatu dengan hujan. Acap kali aku menyodorkan payung selalu berujung dengan penolakan. Ungkapnya hujan adalah dia sambil tersenyum manis memamerkan lesung pipinya. Aku yang dari awal membenci hujan sejak kecelakaan 6 tahun lalu terbawa atmosfer keluguannya. Namun, seiring intensitas hujan yang …

#FFRabu Flash Fiction Writing

#FFKamis – Melepas Anak Ku

“Mba, gimana sudah yakin?” Ayal tanya Mbah Sri yang pasti meragukan niatku lagi. Wajahnya pun menandakan tak yakin. Ya, aku bisa memakluminya karena ini yang ketiga kalinya aku datang ke sini. Namun untuk kali ini aku sudah menggenapkan hati, tak akan lagi melarikan diri. “Iya, Mbah. Aku sudah ikhlas untuk melepasnya. Dia pasti akan mengerti.” …

Flash Fiction Writing

Sebilah Mata Panah Pembebasan

Aku dan suamiku sering berburu rusa di hutan. Untuk kali ini dia nekat mengajak berburu di hutan terlarang. Konon mereka yang pergi ke sana tak akan pernah kembali. Pun, aku tak menolaknya. Rencana besar ini tak akan pernah kusesali. Hutan terlarang terasa damai, namun mencekam. Membangunkan bulu kuduk dan dedaunan yang mendayu diterpa angin seakan …

#FFKamis Flash Fiction Writing

#FFKamis – Kebaya Putih

sumber gbr : http://www.weddingku.com/ CUKUP! Hentikan! Aku tak sanggup lagi. Lirihku yang berulangkali terhempas ke lantai dengan keras. Benda runcing nan tajam yang digenggamnya  pun semakin menggila, menghujam, mencabik-cabik tanpa ampun. “BERENGSEK! SIALAN! Akan kubunuh kau!” Teriaknya dengan tumpahan air mata yang membanjiriku. Sayatan benda itu semakin meliuk-liuk tak beraturan. Benang-benang yang tersusun rapih berceceran menjadi …