pendakian gunung gede pangrango
Gunung,  Wonderfull Indonesia

Pendakian Gunung Gede – Pangrango dan Cerita Dibalik Hujan Es yang Tidak Akan Pernah Terlupakan

Mengikuti ekspedisi pendakian gunung Gede-Pangrango tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Karena gunung Gede adalah pendakian pertama dan kisah tidak terduga yang pertama kali dialami. Dari awal keberangkatan dari Cirebon hingga kembali lagi ke Cirebon penuh dengan drama.

Awalnya, aku diajak oleh temen – temen dari mapala yaitu Zhangier, keke, Cerli, untuk mengikuti pendakian bersama yang diadakan oleh Avtech tanggal 25 – 27 Mei 2012. Sebetulnya, pendakian ini tidak pernah masuk ke dafatr list gunung yang ingin dijamah. Namun, menjadi yang pertama didaki. Tidak masalah juga sih, karena gunung gede lah aku bisa mengenal Kebun Raya Cibodas.

Akses Menuju Pendakian Gunung Gede-Pangrango

Sesuai dengan ketentuan pendakian bersama, jalur yang dilalui melalui gunung putri. Menuju puncak gunung Gede dan Pangrango memang ada beberapa jalur. Bisa juga lewat Kebun Raya Cibodas. Kedua jalur tersebut memiliki keuntungan dan kekurangannya masing-masing. Karena aku dari Cirebon, naik Bus ke Bandung dulu. Lalu beralih kendaraan umum menuju Gunung Putri.

Jika melalui jalur Gunung Putri, pertama akan melewati perkebunan warga. Lalu jalan menanjak dengan dibuat menyerupai tangga. Yang tidak terbiasa dengan jalur seperti ini, kaki akan cepat lelah. Ibarat rambut, terasa tulang-tulang rontok. Kiri-kanan pun hanya terlihat pepohonan tinggi dan semak belukar hingga tiba di alun-alun kencana. Di mana surganya bunga edelwis yang membuat langkah pendakian menjadi lebih ringan. Hamparan edelweis membuat hati tentram. Dari alun-alun tinggal naik ke atas, sampailah di puncak gunung Gede.

Area puncak gunung Gede tidak begitu luas seperti Gunung Ciremai. Karenanya harus lebih berhati-hati. Dari sini untuk mendaki Pangrango, turun ke bawah dengan melalui jalur yang berbeda. Yes, Gede dan Pangrango itu tidak sama loh, ya. Puncaknya berbeda. Tapi, setelah turun pun, ke Pangrango ada jalur khusus lagi yang menanjak. Sayangnya berhubung cuaca di sana lebih ekstrim dari Gede langsung turun menuju Kebun Raya Cibodas.

curug cibeureum

Sebelum tiba di Kebun Raya Cibodas, ada objek wisata yang ternyata sering dikunjungi wisatawan. Curug Cibeureum, Pemandian Air Panas dan Talaga Biru yang merupakan sebuah danau dengan air yang jernih dan terlihat berwarna biru. So, kalau mendaki dari Kebun Raya Cibodas jalurnya kebalikan dari Gunung Putri. Berdasarkan pengalamanku si, lebih memilih melalui Jalur Gunung Putri. Karena track-nya lebih asyik dibandingkan lewat Cibodas.

Cerita Dibalik Hujan Es yang Tidak Akan Pernah Terlupakan

Pendakian Gunung Gede-Pangrango ini tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Segalanya serba pertama yang aku alami selama hidup. Pendakian yang dimulai sekitar jam 2 sore tersebut tiba di Pos Surya Kencana magrib. Jalur yang memang baru pertama dialami, membuat keringat terus bercucuran. Tiba-tiba di alun – alun Surya Kencana, dalam hitungan detik keringat yang mengguyur tubuh tergantikan oleh dingin yang begitu dahsyat. Untuk melangkahkan kaki saja rasanya berat banget seolah ada ribuan kilo batu yang menggantung di kaki.

Karena dingin yang tidak tertahankan, aku langsung pakai 2 jaket tebal tapi tetap saja dingin tidak kunjung pergi malah semakin menjadi. Sialnya, tenda ada di cerli yang masih di belakang. Terpaksa aku dan Zhangier terus lanjut jalan ke tempat camp. Dengan langkah kaki yang tidak teratur, dingin yang terus menerjang, pada akhirnya di tempat camp aku terduduk lemas tidak berdaya. Beruntunglah ada peserta pendakian yang tidak aku kenal mempersilahkan untuk menunggu di tenda mereka.

Penantian yang panjang pun akhirnya tiba juga. Cerli dan Keke tiba di camp. Setelah tenda berdiri kokoh, aku langsung ke dalam tenda berbaring tidak berdaya. Tidak luput sleeping bag aku tarik memenuhi tubuh yang kurus ini. Sepertinya memang aku tidak bersahabat dengan cuaca ekstrim di gunung gede. Bagaimana kalau muncak ke Everest? Bisa-bisa tumbang sebelum berperang-tsah.
puncak gede

Itu Semua Karena Hypotermia

Semakin malam cuaca semakin menggila.  Rasa dingin semakin hebat menerjang, ditambah rasa sakit di kepala yang tidak tertahankan.  Seakan ribuan benda tajam membelah kepala, entah itu pisau, silet, atau apalah yang jelas aku sudah tidak bisa lagi menahan sakitnya. Dalam pikiran saat itu cuma satu yaitu aku tidak ingin mati di gunung Gede. Lalu, aku iket kepala pake syal untuk menahan rasa sakit. Entah bagaimana ceritanya, aku terlelap dan pagi pun menyapa. Ya, Tuhan aku bersyukur banget loh, masih hidup. Bukan lebay, tapi memang hipotermia yang menerjang tubuhku bisa menyebabkan kematian. Yes, aku ternyata kena hipo.

Walau matahari sudah mulai terlihat, rasa dingin masih menyapa. Hal yang wajar aku terkena hipo, karena semalaman ternyata hujan es. Saat pagi hari ke luar tenda, es ada di mana-mana. Mungkin ini kali ya rasanya tinggal di kutub dengan ditemani es-hoho.

Demikianlah ceritaku mengikuti pendakian Gunung Gede Pangrango. Walau lelah, melihat kawah dibawah sana rasanya lega sekali, perjuangan ke Gede tidak sia – sia, setelah melewati beberapa kehawatiran karena dingin. Kepuasaan yang  aku rasakan akan selalu tersimpan dalam memory kenangan. Sebuah kebahagiaan yang tidak semuanya dapat diungkapakan dengan kata – kata.

Pecinta coklat / buku/ Sedang mengejar mimpi untuk keliling Indonesia. Blog ini merupakan salah satu wadah menuangkan kisah-kisah perjalananku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.