pendakian gunung ciremai
Gunung,  Wonderfull Indonesia

Pendakian Gunung Ciremai: Sebuah Negeri Terindah di Atas Awan

Setelah sukses mendaki gunung Gede Pangrango, tujuan kali ini adalah Pendakian Gunung Ciremai dengan keindahan negeri di atas awan. Sebuah gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl. Berlokasi antara Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Sebagai gunung merapi aktif letusan terakhir gunung yang konon katanya di huni Nyi Pelet ini terjadi di tahun 1937.

Mendaki gunung Ciremai sudah menjadi impian sejak aku di bangku SMA. Hal ini dikarenakan temanku anak pecinta alam yang kegiatannya naik-turun gunung. Ditambah sebagai warga asli Kuningan yang rumahku juga terletak di kaki Gunung Tilu. Sehingga dengan kehidupan alam sudah menjadi bagian dalam diri semenjak lahir ke dunia fana ini. Sayang, ijin orang tua tidak pernah kudapat karena banyaknya korban yang meninggal saat mendaki. Wajar saja kan, namanya juga orang tua. Tentunya sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya.

Pendakian Gunung Ciremai Tanpa Rencana

Lagi-lagi aku mendaki gunung tanpa rencana. Berbeda dengan Pendakian Gunung Gede dengan adanya sedikit persiapan, mendaki Ciremai tanpa persiapan apa pun. Semua peralatan mendaki sudah disiapkan teman-teman mapala. Aku tinggal berangkat membawa baju ganti-hoho. Sebetulnya aku sempat galau semalaman, karena memang diberitahunya satu hari sebelum keberangkatan. Setelah muter otak, fix aku ikut. Ah, entah kenapa kesal juga nih. Tidak perlu berpikir panjang bukan, kalau ujung-ujungnya ikut? *tsah.

Untuk teman-teman mohon jangan ikutin cara aku ini ya. Karena mendaki sebaiknya dipersiapkan lebih matang. Apalagi yang tidak terbiasa naik-turun gunung. Minimal seminggu sebelum keberangkatan agar dapat melakukan persiapan fisik. Kenali juga jalur yang akan dilalui, via Palutungan, Apuy, Linggarjati, atau Linggasana? Track-nya berbeda, sehingga jika sudah persiapan fisik jalur mana pun pasti aman.

puncak ciremai

Mendaki Gunung Ciremai Via Jalur Palutungan

Pendakian waktu itu bersama dengan a Mamet, Kang Moris, Lulu, Kang Wanto, Ririn, a Indra, A Beno dan A Topik. Kami mendaki melalui Jalur Palutungan. Jalurnya mudah dan santai untuk para pendaki pemula. Walau sebenarnya  yang namanya mendaki gunung sama saja. Sama – sama menguras tenaga, sama letihnya, sama harus mengejar puncak.

Pendakian dimulai sekitar jam sebelas siang dan  Camp di Pos Pasanggrahan karena malam sudah menyapa. Tiba di sana sudah saatnya shalat magrib. Sebetulnya bisa saja lanjut. Namun, karena memang mendaki snatai, ya santai saja teman. Besok siangnya baru melanjutkan pendakian ke puncak. Peralatan di simpan di Pasanggrahan karena sesuai rencana akan camp lagi satu malam.

Perjalanan ke puncak ternyata ekstrim juga terlebih musim kemarau sehingga jalanan berdebu. Sungguh tidak terbayang jika jatuh dipinggir jurang dengan batu – batu yang lumayan tajam. Pantas saja jika para pendaki tidak berhati – hati akan sangat berbahaya untuk keselamatan jiwa.
Entah kenapa hati bergejolak  tidak karuan rasanya ingin turun lagi karena tidak kunjung tiba di puncak. Dan kaki rasanya berat untuk melangkah. Tapi, nanggung banget kalau turun lagi ke tempat camp. Karena jarak turun dan menuju puncak sama saja. Ah, godaan memang. Semakin ke atas, pemandangan di bawah semakin menakjubkan. Rasanya hati bahagia memandang ke bawah sana. Dengan meyakinkan diri kembali akhirnya sampai juga di tempat tujuan. puncak Ciremai.

Sebuah Negeri Terindah di Atas Awan

Tidak sia-sia, loh. Pemandangan di puncak Ciremai sangat menakjubkan. Sungguh laur biasa kerennya. Anugerah Tuhan yang tidak ternilai harganya. Di atas sana ada dua pemandangan yang berbeda jika melihat ke bawah yaitu melihat kawah dan gumpalan awan. Yes, memandnag ke bawah memang ada rasa ngeri menggelitik karena bagaimanapun Ciremai adalah gunung merapi aktif. Jika sepanjang perjalanan terhirup aroma dari asap kawah, di puncak tidak sama sekali. Aroma di puncak adalah aroma hangatnya mentari dengan pelukan lembut hembusan angin.
sunset puncak ciremai
Area di atas puncak terbilang luas dengan bunga edelweis menambah kemegahan puncak Ciremai. Jika melihat ke bawah sisi lain maka gumpalan awan di bawah sana terlihat jelas, bentuk – bentuk awan yang beranekaragam. Rasanya ingin sekali loncat ke kumpulan awan-awan tersebut. Puncak Ciremai adalah negeri di atas awan yang begitu indah. Siapa pun yang sekali saja ke Ciremai, maka ingin kembali ke sana menyapa ciptaan Tuhan yang begitu indah.

Sisi Lain Gunung Ciremai yang Tidak Menguntungkan Pendaki

Seharian di puncak untuk merasakan momen sunset, namun yang tersisa tinggal aku, a mamet, a Indra, dan a Beno, yang lainnya turun duluan. Lalu,mampir ke Gua Walet. Sayang banget sudah cape-cape ke Ciremai nggak mampir dulu ke Gua Walet. Di mana pendaki dapat mengambil air untuk minum. Sayangnya karena musim kemarau air hanya sedikit.
gua walet gunung ciremai
Yang perlu teman-teman ketahui, Jalur Pendakian gunung Ciremai ini sangat susah air. Terutama saat kemarau, sehingga persediaan air yang dibawa harus banyak dan berhemat. Jangan sampai kehabisan air di puncak. Oke!
Momen yang indah itu akhirnya tercapai juga sunset yang indah, bulan yang terang, ciremai yang mulai gelap tertutup awan, menutup juga kisah pendakian gunung Ciremai. Ciremai buatku sebuah kekuatan untuk terus berjuang mencapai mimpi dan tetap rendah hati dengan segala hasil yang diterima.

Pecinta coklat / buku/ Sedang mengejar mimpi untuk keliling Indonesia. Blog ini merupakan salah satu wadah menuangkan kisah-kisah perjalananku.

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.