Sebilah Mata Panah Pembebasan

Tomoyo Rin

Updated on:


Aku dan suamiku sering berburu rusa di hutan. Untuk kali ini dia nekat mengajak berburu di hutan terlarang. Konon mereka yang pergi ke sana tak akan pernah kembali. Pun, aku tak menolaknya. Rencana besar ini tak akan pernah kusesali.

Hutan terlarang terasa damai, namun mencekam. Membangunkan bulu kuduk dan dedaunan yang mendayu diterpa angin seakan siap menerkam kami kapan saja. Sesuatu terlihat bergerak di semak. Rusa. Suamiku mendekat dan anak panah kami melesat bersamaan.
“Laras, apa yang kamu lakukan?” Rintihnya parau.
“Membebaskanmu dari keserakahan. Aku sudah muak dengan kelakuanmu yang doyan kawin!”
Darah dari jantungnya menjalar menembus tanah terlarang ini.
_______________ Flash Fiction _______________ 
100 kata

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.