Random

Budaya Antri Naik Bus yang Harus Dibiasakan. Tertib itu Indah, loh.

Kali ini aku ingin sedikit berbagi opiniku tentang budaya antri naik bus perlu diperhatikan dengan seksama.

Seperti yang sudah diketahui, selogan “Ayo Naik Bus untuk Mengurai Macet” adalah salah satu cara jitu untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya saling menghargai satu dengan lainnya.

Hal tersebut disebabkan dengan meningkatnya volume kendaraan pribadi. Sedangkan kapasitas jalanan tidak bisa seenak jidat diperluas. Alhasil, macet di mana-mana. Banyak orang dewasa yang terlambat masuk kerja dan anak-anak terlambat masuk kelas.

Kemacetan menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat ibu kota. Selain waktu yang terbuang, tenaga juga terkuras. Tidak dipungkiri kondisi tubuh yang lelah akan meningkatkan stres yang tinggi pula. Sehingga, ajakan untuk naik kendaraan umum salah satunya busway, beberapa tahun belakang ini gencar dilakukan. Ditambah sistem ganjil-genap yang mungkin memberatkan beberapa pihak, namun memberikan efek positif yang dapat dirasakan semua kalangan.

Sayangnya permasalahan tidak berhenti disitu, saja. Beberapa rute Trans Jakarta selalu ramai dan padat. Terutama di jam pagi dan sore. Banyak warga yang memang beralih ke busway, namun pekerjaan rumah terbesar yang harus dipahami semua pihak dari penumpang hingga pengelola Trans Jakarta adalan saat naik dan turun dari busway.

Budaya Antri Naik Bus yang Harus Ketat Dijalankan

Prosedur yang selama ini dijalankan adalah mengutamakan penumpang yang akan turun terlebih dahulu. Tindakan tersebut sudah tepat, karena kalau tidak di atur akan amburadul alias semrawut sehingga menimbulkan ketidaktertibaan yang akan membawa dampak negatif. Seperti terjepit, semakin susah saat turun dari busway, dan lainnya yang bisa saja akan merugikan fisik maupun psikis.

Seperti rute Trans Jakarta Kota Tua-Blok MM. Padatnya minta ampun. Selalu ramai dan harus siap berdesak-desakan. Masalahnya adalah menunggu bus berikutnya juga tetap sama, selalu penuh. So, mau tidak mau selagi masih muat bertahan di bagian space yang lumayan untuk berdiri. Jangan terlalu berharap mendapatkan tempat duduk, terkecuali untuk kursi prioritas seperti ibu hamil, anak-anak dan lansia.

Baca Juga : Tips Tetap Sehat Berkendara Saat Mudik.

Naik-Turun Bus, Siapa yang Harus Didahulukan?

Yang ingin aku garis bawahi adalah budaya mengantri saat naik dan turun dari busway. Sebelumnya, ada pembatas untuk penumpang turun dan naik sehingga tidak akan bentrok di depan pintu busway. Sekarang malah tidak ada. Alhasil penumpang yang naik berkerumun di peron masing-masing rute. Dan, yang turun mau tidak mau harus berdesakan. Lalu, petugas akan berteriak “Yang turun didahulukan. Tolong kasih jalan.”

Bukankah akan lebih tertib jika ada pembatas untuk jalan penumpang yang naik maupun turun? Karena budaya ngantri di Indonesia ini masih minim, sehingga semua pihak harus ikut andil. Tidak hanya dengan teriakan lantang petugas, namun dengan tindakan lain seperti fasilitas pembatas tersebut. Menguba sesuatu yang tidak biasa itu memerlukan waktu yang panjang, namun jika terbiasa akan menjadi sebuah kebiasan yang melekat dalam diri.

Kita bisa mencontoh stasiun MRT yang tidak menyediakan tong sampah untuk mendidik masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan. Tidak sembarangan makan dan minum di tempat umum. Kalau ini bisa mecontoh juga dari Trans Jakarta dan KRL yang tidak memperbolehkan makan dan minum di dalamnya.

Antrian Menaiki Bus AO Lippo Cikarang
Antrian Menaiki Bus AO Lippo Cikarang

Fasilitas-fasilitas yang memang harus disediakan kenapa tidak? Terkecuali memang kesadaran akan budaya antri sudah melekat. Seperti para penumpang Bus AO Lippo Cikarang menuju Blok M, saat ramai orang-orang akan dengan sendirinya berjejer ke Belakang. Yang terakhir datang tidak bisa menyerobot, harus antri di belakang. Dan itu tanpa harus mendengar teriakan petugas. Kenapa seperti itu? Karena sudah terbiasa dan paham dengan aturan mainnya.

Untuk Trans Jakarta karena masih banyaknya pendatang yang mungkin belum paham dengan aturan yang berlaku, lebih baik pembatas tetap diadakan. Agar budaya antri naik bus tetap terjaga dan menjadi sebuah kebiasan, di mana pun tempatnya terutama di tempat-tempat umum.

Pecinta coklat / buku/ Sedang mengejar mimpi untuk keliling Indonesia. Blog ini merupakan salah satu wadah menuangkan kisah-kisah perjalananku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.