3 Hal Tentang Manajemen Pemasaran Perusahaan Jepang

manajemen pemasaran jepang

Jika paham dengan manajemen pemasaran maka menjadi marketing tidak gampang juga tidak sulit. Seorang marketing tidak hanya bermodalkan pintar ngomong dan attitude yang baik, tetapi harus cerdas dalam segala hal.

Pun, marketing itu harus rendah diri. Setiap harinya harus belajar dan belajar. Bahkan temuan apa pun di lapangan jadikan sebagai bahan pembelajaran. Hal ini akan menjadi acuan dalam manajemen suatu pemasaran.

Manajemen Pemasaran Ala Perusahaan Jepang

Bahas mengenai manajemen sebuah pemasaran di Jepang ada tiga hal mengenai strateginya, yaitu:

Eigyouryoku – Sales Force – Merancang Strategi Penjualan

Segala sesuatu itu memang harus ada rencananya dong, agar tujuan kita setidaknya tidak melenceng dan terarah. Apalagi marketing harus punya perencanaan yang matang. Tidak bisa asal menawarkan produk, yang penting terjual.

Iyah, kalau terjual. Lah, kalau nggak? Duh, waktu, usaha, modal, menjadi sia-sia. Sebaliknya dengan membuat perencanaan dan strategi akan meminimalisir yang namanya “muda” atau kesia-siaan yang nantinya malah buntung bukannya untung.

Dalam manajemen sales force terbagi menjadi perencanaan dan strategi.

Perencanaan Manajemen Sales Force

  • Apa yang akan dijual
  • Siapa sasarannya
  • Berapa modalnya
  • Kisaran harga produk
  • Berapa persen keuntungan
  • Barang ready atau PO
  • Proses Pengiriman

Strategi Manajemen Pemasaran

  • Manfaatkan media sosial
  • Galeri/Toko/PT – Memiliki tempat khusus untuk berjualan lebih bagus.
  • Mendatangi pelanggan secara langsung (face to face)

Membuat strategi saat menghadapi costumer. Ini juga perlu garis bawahi karena setiap orang memiliki sifat berbeda. Marketing setidaknya memahi dasar psikologi.

Misal, menghadapi orang cuek, orang ramah, tentunya berbeda. Jangan sampai saat pelanggan memiliki sifat yang ketus atau terkesan merendahkan produk kita, ikutan emosoi juga. Itu dapat memperburuk keadaan, lho. Marketing itu harus bijak dan sabar.

Manajemen Pemasaran Handanryoku – Judgement

Jika perencanaa sudah matang, proses selanjutannya adalah keputusan dan pertimbangan. Hal ini akan berlaku saat berkomunikasi dengan pelanggan. Kenapa? Karena akan lebih mudah dalam membuat keputusan seperti dalam urusan melobi harga.

Terutama menghadapi pelanggan yang suka tarik-ulur soal harga, di sini suka diuji banget nih. Tidak sekali dua kali menemukan pelanggan yang sering melakukan tarik-ulur demi mencapai tujuannya. Namun, aku juga tidak kalah egoisnya dengan tetap memegang keputusan yang sudah aku buat.

Adapun tiga hal yang harus marketing perhatikan, adalah:

Keputusan

mengenai lobi harga. Bagaimana keputusan yang baik dari seorang marketing. Baiknya, tidak langsung mengiyakan. Namun, tidak boleh juga langsung menolak. Ya, kan namanya juga melobi.

Pendapat

Coba deh tanyakan pendapat pelanggan. Kenapa minta diskon? Berapa diskon yang mereka inginkan.

Pertimbangan

Setelah melakukan dua hal tersebut saatnya mempertimbangkan hasilnya. Keputusannya A, B atau C. Untuk keputusan akhir sebisa mungkin berikan juga alasannya.

Seperti sepakat memberi diskon, dengan quantity pembelian barang sekian. Atau diskon berlaku untuk hari itu saja. Kalau tidak ada diskon, berilah penjelasan yang masuk akal dan bisa pelanggan terima dengan kerendahan hati.
 
Mengenai diskon sebisa mungkin jangan terlalu besar ya. Justru itu akan membuat memberikan kesan bahwa produk kita itu aslinya murah. Kecuali kalau memang mau kasih diskon bonus akhir tahun dan hari-hari besar lainnya.

Mengenai tarik-ulur yang tertulis di atas. Selain pelanggan, marketing juga harus tarik-ulur, lho. Terkadang ada pelanggan yang sama sekali tidak butuh produk kita. Padahal sebelumnya antusias banget. Ini biasanya karena harga tak sesuai kantong.

Jika seperti itu tetap melakukan komunikasi. Karena dikemudian hari kemungkinan pelanggan itu membutuhkan produk yang kita jual. Dalam dunia marketing juga ada waktunya. Terkadang itu malah tidak terduga.

Aku sering mengalami hal seperti ini. Dan akhirnya suka gemas sendiri kalau mendengar curhatan customer mengenai produk sebelumnya tak bekerja maksimal. Intinya, memang ada waktunya untuk marketing membiarkan dulu pelanggan yang seperti itu.

Kidouryoku – Dorongan – Motive Force – Activation Force

Seorang marketing memang harus memiliki tekad yang kuat karena dengan tekad itu akan mendorong diri sendiri untuk mencintai produk sendiri. Jika sudah cinta, dengan sendirinya akan tumbuh keyakinan tentang kelebihan produk sendiri yang tidak ada bandingannya.

Termasuk keyakinan diri sendiri untuk selalu percaya diri saat menjual produk. Jika tekad sudah kuat, dorongan itu akan mentransfer ke pelanggan untuk mendengarkan maksud, produk yang ditawarkan, sehingga muncul ketertarikan atas produk yang ditawarkan.

Jika ada sampel, berikanlah. Kalaupun tidak ada, dengan demo langsung akan mudah mendorong pelanggan untuk tertarik terhadap produk yang dijual. Ya, biarkan pelanggan merasa tertarik juga.

Karena jika sudah tertarik, walaupun menjelaskan kekurangannya, justru malah membuat pelanggan lebih memahami penggunaan produk yang ditawarkan.

Seperti membeli peralatan elektronik, yang aku yakini jarang ada orang yang membaca buku panduannya. Sehingga saat ada kerusakan, yang disalahkan pertama kali adalah produknya. Padahal, bisa saja cara penggunaannya yang salah.

Manajemen Dorongan Pemasaran

Nah, sebagai marketing, agar pelanggan tidak kabur, kelebihan dan kekuranggannya harus dijelaskan juga. Karena, berdasarkan pengalaman dengan menjelaskan kekurangannya menjadi lebih mengerti tentang produk. Tak perlu khawatir pelanggan jadi membeli atau tidak. Karena itu akan dikembalikan lagi ke marketingnya.

Sebagai contoh, aku menjual produk chemical. Ada salah satu produk yang baunya lumayan menyengat, namun secara pemakaian sangat bagus dan praktis. Sempat customer meminta produk lain yang tidak berbau. Tentu saja aku kasih yang lain, namun ternyata lebih suka dengan produk yang sebelumnya. Hanya permasalahan bau saja.

Sebagai marketing aku menjelaskan bahwa produk chemical berbau lebih bagus. karena dengan itu kita bisa tahu penangannya. Bisa pakai masker untuk menghindari bau. Bahkan walaupun semua produk aku bebas dari SoC Free. Tetap saja yang namanya kimia ada efek sampinya. Mendengar penjelasan seperti itu customer akhirnya tetap memakai produk sebelumnya.

Nah, dari kasus di atas. Sebagai marketing harus bisa memberikan jawaban atas kekurangan produk. Terpenting jang berbohong karena kejujuran juga berlaku dalam dunia bisnis.

Kesimpulan

Ketiga hal mengenai manajemen pemasaran di atas harus melekat dalam diri seorang marketing untuk memudahkan pekerjaan dalam menjual produk, mempertahankan pelanggan lama dan pelanggan baru.

Perencanaan dan strategi di atas tidak beda jauh dengan rumus 5W+1H. Tidak hanya dalam pelajaran bahasa Indonesia saja, bahkan seorang writer pun bisa mengacu pada rumus tersebut. Buat mempermudah dan lebih fokus.

Satu hal yang harus ditekankan jadilah marketing yang jujur. Menawarkan barang apa adanya, jangan sampai dilebih-lebihkan. 

Previous Post Next Post

2 Comments

  1. Reply Erin Herlina Februari 5, 2018 at 07:52

    Iyah mba, hubungan baik itu perlu di lingkungan kerja terutama marketing.

  2. Reply Astin Astanti Februari 5, 2018 at 07:47

    Bebrapa tahun yang lalu, sempat ngicipin jadi Marketing Farmasi. Kebetulan produk sudah jelas, pasarnya juga sudah jelas, tinggal pinter-pinternya menjalin hubungan baik di lingkungan kerja, hasil gak akan membohongi dengan usaha.

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.