Situ Talaga Sangiang : Jejak Kerajaan di Majalengka

Tomoyo Rin

Updated on:

sejarah talaga sangiang majalengka

Waktu SMA aku dengan teman-teman KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) mengadakan Observasi ke Situ Talaga Sangiang. Situ ini berada di Talaga Kabupaten Majalengka.

Pemandangan situ yang indah dan sejuk membuat suasana begitu menyegarkan. Terlebih spesies ikan di Talaga Sangiang yaitu ikan lele, ikan mas, dan ikan nila membuatku tidak bosan memandangi air danau yang nampak hijau.

Konon ikan di situ tersebut tidak boleh dimakan. Terutama untuk ikan lelenya karena itu bukan ikan biasa melainkan ikan jelmaan para prajurit kerajaan. Ya, dari danau yang luas tersebut ada kisah tragis di masa lalu.

Contents

Fakta Situ Talaga

Menurut kuncen di talaga itu berbentuk Kuali. Pernah ada orang yang meneliti tentang kedalaman talaga ini, tetapi tidak pernah diketahui kedalamannya. Mungkin saja itu adalah kebesaran Allah SWT.

Fakta yang lebih menarik lagi air di talaga ini saat musim hujan airnya akan surut sedangkan di musim kemarau kebalikannya pasti airnya akan melimpah.

Talaga Sangiang termasuk kedalam Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Di mana terdapat berbagai jenis pohon seperti Pohon Kipare, Pohon Manglid, Pohon Kalimorot, Pohon Rengas, Pohon Mahoni, Pohon Pulus, Pohon Kihoe, Pohon Nangsi, Pohon Kicau, Pohon Koncangan, Pohon Kaliki, Pohon Hantap, Pohon Hambirung, Pohon Masawa, Pohon Haringpiku, Pohon Nunuk, Pohon Tisuk, Pohon Jaha, Pohon Kimeong, dan masih banyak lagi.

Ada satu hal yang tidak boleh kalian lewatkan tentang pemandangan yang begitu menakjubkan yaitu di dalam kawasan situ terdapat 5 pohon dengan pucuknya menyatu antara satu pohon dengan pohon lainnya.

Sejarah Situ Talaga Sangiang

Sebeleum abad ke – 15, Kewadanan Talaga adalah bekas salah satu kerajaan yang bertahta bernama Sunan Talaga Manggung, asal keturunan Raja Prabu Siliwangi, kerajaan di sangiang. Beliau memiliki dua orang putra laki – laki dan perempuan.

Yang laki – laki bernama Raden Panglurah dan yang perempuan bernama Ratu simbar Kencana. Raden panglurah tidak ada di keraton sedang melakukan tetapa di gunung bitung, sebelah selatan Talaga.

Ratu Simbar Kencana mempunyai suami seorang patih di keraton yang bernama Palembang Gunung yang berasal dari Palembang. Patih palembang Gunung setelah merasa mendapatkan kepercayaan dari mertuanya dan masyarakat pun taat, timbul fikiran yang murka yakni ingin menjadi Raja Sangiang Talaga, dengan akan membunuh mertuanya (Raja Talaga Manggug).

Seorang  yang bernama Citra Singa mengatakan bahwa Raja sangat gagah perkasa dan tidak satupun senjata atau tumbak yang mampu mengambil patinya (nyawa) melainkan oleh Tumbak milik Raja sendiri.

Tumbak yang sudah ada ketika Raja lahir dan yang hanya bisa mencambut tumbak itu hanya seorang gandek kepercayaan raja yang bernama Centang barang. Setelah mendapatkan keterangan tersebut, Palembang Gunung membujuk Centang Barang, bahwa dia akan naik tahta jika berhasil membunuh raja, lalu Centang Barangpun bersedia melakukannya.

Pembunuhan Tragis dan Menghilangnya Keraton

Pada suatu hari sekitar jam lima pagi, Sunan Talaga Manggung baru bangun dan menuju jamban. Centang Barang mengintai raja. Di tempat yang gelap Centang Barang menusuk Sang Raja pada bagian pinggang sebelah kiri sehingga mendapatkan luka parah.

Setelah melakukan pembunuhan tersebut Centang Barang lari jauh karena para penjaga memburu keberadaannya. Tetapi sang raja berkata “Biarlah Centang Barang pergi, nanti juga dia akan celaka dan mendapatkan pembalasan dari dewa karena dia durhaka.”

Setelah Centang Barang keluar dari kertaon ia menjadi gila dan mengigit anggota badannya sendiri sampai mati. Setelah mendapatkan kabar tentang peristiwa itu Palembang Gunung menengoknya. Tetapi keraton sudah tidak ada (hilang) menjadi situ yang sekarang terkenal dengan Talaga Sangiang.

Setelah keraton menghilang, Patih Palembang Gunung menjadi Raja di Talaga. Tidak lama dari peristiwa tersebut terbongkar kematian ayahnya oleh Simbarkencana. Ia membulatkan hati untuk membalas dendam kepada suaminya. Pada suatu hari ketika Palembang Gunung sedang tidur Ratu Simbar Kencana menikam leher suaminya dengan tusuk konde sampai mati.

Setelah Palembang Gunung mati kerajaan belum ada yang menggantinya, maka penggantinya Raden Panglurah yang baru pulang dari pertapaan. Sedatangnya ke sangiang beliau merasa kaget karena keadaan kraton sudah mati yang nampak hanya situ saja. Lalu beliau mendapat kabar dari orang yang bertemu di sana bahwa kraton sudah pindah ke Walang Suji.

Raden Panglurah yang Ikut Menghilang

Ketika Ratu Simbar Kencana sedang berkumpul dengan ponggawaa, datanglah Raden Panglurah, lalu Ratu Simbar menceritakan tentang pembunuhan ayah handanya oleh suaminya sendiri. Lalu, Ratu membunuh Palembang Gunung.

Kemudian Raden Panglurah meminta agar yang melanjutkan pemerintahan adalah Ratu Simbar Kencana. Sedangkan Raden Panglurah akan menyusul ayahnya dengan meminta 4 orang pahlawan untuk mengiringinya.

Permintaan dikabulkan, Raden Panglurah langsung menuju situ sangiang dan turut menghilng. Yang konon katanya menjadi ikan. 

Sementara itu, Ratu Simbar Kencana menikah lagi dengan Raden Kusuma Laya Ajar Kuta Mangu. Raden keturunan Galuh dan mempunyai seorang Putra bernama sunan Parung. Setelah Ratu Simbar meninggal dunia, kerajaan pun beralih kepada putranya. Sunan Parung mempunyai seorang putri bernama Ratu Parung.

Setelah sunan Parung meninggal kerajaan diturunkan kepada putrinya Ratu Parung yang menikah dengan Raden Rangga Mantri putra Raden Munding Sari Agung keturuan Prabu Siliwangi/Padjadjaran.

Berakhirnya Kerajaan di Majalengka

Sejak itu Raden Rangga Mantri dan Ratu Parung agamanya beralih kepercayaan dari agama Budha menjadi agama Islam. Yang dikembangkan oleh Sunan Gunung Djati dari Cirebon yaitu Syeh Syarif Hidayatullah. Raden Rangga Mantri setelah masuk Islam namanya beralih menjadi Prabu Pucuk Prih. Beliau mempunyai putera bernama Sunan Wanak Prih.

Sunan Wanak Prih menjadi raja yang bertempat di Walang Suji (Desa Kagok), beliau mempunyai putra bernama Ampuh Surawijaya Sunan Kidal. Kemudian Kerjaan turun kepada beliau dan dipindahkan dari Walang Suji ke Talaga.

Ampuh Surawijaya mempunyai putra bernama Sunan Pangeran Surawijaya Sunan Ciburuy. Kerajaan pun beralih kepada putranya Dipati Wiranata dan Dipati Wiranata mempunyai putra bernama Raden Saca Eyang. Kemudian kerajaan berlanjut hingga abad ke-17.

Akibat dari penjajahan kerajaan hilang dan beralih dari kerajaan Talaga menjadi Kabuptaen. Raden Sacanata Eyang meninggalkan kepangkatannya dan turun kepada putranya Arya Saca Nata. Setelah itu kabupaten pindah ke Majalengka yang bertempat di Sindang Kasih.

Ketika pemindahan Kabupaten Bupati Raden Sacanata menolaknya sampai beliau pensiun. Beliau mempunyai satu putra bernama Pangeran Sumanegara. Pangeran Sumanegara mempunyai putri  bernama Nyai raden Anggrek dan memiliki suami bernama Kertadilaga Dicikifai Talaga.

Sampai sekarang keturunanannya masih ada, menjaga (memelihara) barang – barang kuno keturunan Raja Talaga. Barang kuno tersebut masih ada seperti : baju kere, Arca – arca, gamelan, tuah meriam, bedil sundut dan lain – lain.

Adapun bekas keratonnya sudah berubah menjadi Rumah Tembok. Pintu dan dindingnya saja yang terbuat dari ukiran kuno.

Kesimpulan

Seperti itulah cerit dari Situ Talaga Sangiang. Sekarang sudah tahu ya, alasan ikan lele itu tidak boleh siapapun mengonsumsinya. Selain itu, di sana juga masih ada tempat duduk peninggalan kerajaan yang terbuat dari batu. Pun, terdapat makam kramat Sunan Parung yang sampai saat ini tak sedikit orang yang berjiarah kesana.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.