situ-talaga-sangiang
Waduk,  Wonderfull Indonesia

Situ Talaga Sangiang : Sebuah Sejarah Kerajaan di Majalengka

Waktu SMA dulu aku dengan teman-teman KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) mengadakan Observasi ke Situ Talaga Sangiang. Situ ini berada di Talaga Kabupaten Majalengka. Pemandangan disini indah, sejuk terlebih spesies ikan di Talaga Sangiang yaitu Ikan Lele, Ikan Mas, Ikan Nila. Ikan di sini tidak boleh dimakan apalagi ikan lelenya karena itu bukan ikan biasa melainkan ikan jelmaan para prajurit kerajaan.
Menurut kuncen di sana talaga itu berbentuk Kuali. Pernah ada orang yang meneliti tentang kedalaman talaga ini tapi tidak pernah diketahui kedalamannya.  Itu adalah kebesaran Allah SWT. Dan fakta yang lebih menarik lagi air di talaga ini kalau musim hujan airnya akan surut sedangkan di musim kemarau kebalikannya pasti airnya akan melimpah.
Talga Sangiang ini juga termasuk kedalam Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) karena di sini terdapat berbagai jenis pohon seperti Pohon Kipare, Pohon Manglid, Pohon Kalimorot, Pohon Rengas, Pohon Mahoni, Pohon Pulus, Pohon Kihoe, Pohon Nangsi, Pohon Kicau, Pohon Koncangan, Pohon Kaliki, Pohon Hantap, Pohon Hambirung, Pohon Masawa, Pohon Haringpiku, Pohon Nunuk, Pohon Tisuk, Pohon Jaha, Pohon Kimeong, dan masih banyak lagi.
Ada satu hal yang tak boleh kalian lewatkan tentang pemandangan yang begitu menakjubkan yaitu dimana disana terdapat 5 pohon tetapi pucuknya menyatu.

Sejarah Situ Talaga Sangiang

Sebeleum abad ke – 15, Kewadanan Talaga adalah bekas salah satu kerajaan yang bertahta bernama Sunan Talaga Manggung, asal keturunan Raja Prabu Siliwangi, kerajaan di sangiang. Beliau memiliki dua orang putra laki – laki dan perempuan. Yang laki – laki bernama Raden Panglurah dan yang perempuan bernama Ratu simbar Kencana. Raden panglurah tidak ada di keraton sedang melakukan tetapa di gunung bitung, sebelah selatan Talaga.
Ratu Simbar Kencana mempunyai suami seorang patih di keraton yang bernama Palembang Gunung yang berasal dari Palembang. Patih palembang Gunung setelah merasa dipercaya oleh mertuanya dan ditaati oleh masyarakat, timbul fikiran yang murka yakni ingin menjadi Raja Sangiang Talaga, dengan akan membunuh mertuanya (Raja Talaga Manggug).
Seorang  yang bernama Citra Singa mengatakan bahwa Raja sangat gagah perkasa dan tidak satupun senjata atau tumbak yang mampu mengambil patinya (nyawa) melainkan oleh Tumbak milik Raja sendiri. Tumbak yang sudah ada ketika Raja lahir dan yang hanya bisa mencambut tumbak itu hanya seorang gandek kepercayaan raja yang bernama Centang barang. Setelah mendapatkan keterangan tersebut, Palembang Gunung membujuk Centang Barang, bahwa dia akan naik tahta jika berhasil membunuh raja, lalu Centang Barangpun bersedia melakukannya.

Pembunuhan Tragis dan Menghilangnya Keraton

Pada suatu hari sekitar jam lima pagi, Sunan Talga Manggung baru bangun dan menuju jamban. Beliau diintai oleh Centang Barang. Ditempat yang gelap Sang Raja ditusuk pinggang sebelah kirinya sehingga mendapatkan luka parah. Setelah melakukan pembunuhan tersebut Centang Barang lari jauh dan diburu penjaga. Tetapi sang raja berkata “Biarlah Centang Barang pergi, nanti juga dia akan celaka dan mendapatkan pembalasan dari dewa karena dia durhaka.”
Setelah Centang Barang keluar dari kertaon ia menjadi gila dan mengigit anggota badannya sendiri sampai mati. Setelah mendapatkan kabar tentang peristiwa itu Palembang Gunung menengoknya. Tetapi keraton sudah tidak ada (hilang) menjadi situ yang sekarang terkenal dengan Talaga sangiang.
Setelah keraton menghilang, Patih Palembang Gunung diangkat menjadi Raja di Talaga. Tidak lama, peristiwa tersebut terbongkar dan diketahui oleh simbarkencana, ia membulatkan hati untuk membalas dendam kepada suaminya. Pada suatu hari ketika palembang Gunung sedang tidur Ratu Simbar Kencana menikam leher suaminya dengan tusuk konde sampai mati.
Setelah Palembang Gunung mati kerajaan belum ada yang menggantinya, maka diangkat Raden Panglurah yang baru pulang dari pertapaan. Sedatangnya ke sangiang beliau merasa kaget karena keadaan kraton sudah mati yang nampak hanya situ saja, da setelah beliau mendapat kabar dari orang yang bertemu ditempat itu bahwa kraton sudah pindah ke Walang Suji.

Raden Panglurah yang Ikut Menghilang

Ketika Ratu Simbar Kencana sedang berkumpul dengan ponggawaa, datanglah Raden Panglurah, lalu Ratu Simbar menceritakan kematian ayah handanya yang dibunuh oleh suaminya sendiri. Dan Palembang Gunung dibunuh oleh Ratu sendiri. Kemudian Raden Panglurah meminta agar yang melanjutkan pemerintahan adalah Ratu Simbar Kencana. Sedangkan Raden Panglurah akan menyusul ayahnya dengan meminta 4 orang pahlawan untuk mengiringinya.
Permintaan dikabulkan, Raden Panglurah langsung menuju situ sangiang dan turut menghilng. Yang konon katanya menjadi ikan. 
Sementara itu, Ratu Simbar Kencana menikah lagi dengan Raden Kusuma laya Ajar Kuta Mangu. Raden keturunan Galuh dan mempunyai seorang Putra bernama sunan Parung. Setelah Ratu Simbar meninggal dunia, kerajaan pun diturunkan kepada putranya. Sunan Parung mempunyai seorang putri bernama Ratu Parung. Setelah sunan Parung meninggal kerajaan diturunkan kepada putrinya Ratu Parung yang menikah dengan Raden Rangga Mantri putra Raden Munding Sari Agung keturuan Prabu Siliwangi/Padjadjaran.

Berakhirnya Kerajaan di Majalengka

Sejak waktu itu Raden Rangga Mantri dan Ratu Parung agamanya diganti dari agama Budha menjadi agama Islam. Yang dikembangkan oleh Sunan Gunung Djati dari Cirebon yaitu Syeh Syarif Hidayatullah. Raden Rangga Mantri setelah masuk Islam namanya diganti menjadi Prabu Pucuk Prih. Beliau mempunyai putera bernama Sunan Wanak Prih.
Sunan Wanak Prih menjadi raja yang bertempat di Walang Suji (Desa Kagok), beliau mempunyai putra bernama Ampuh Surawijaya Sunan Kidal. Kemudian Kerjaan diturunkan kepada beliau dan dipindahkan dari Walang Suji ke Talaga. Ampuh Surawijaya mempunyai putra bernama Sunan Pangeran Surawijaya Sunan Ciburuy lalu kerajaan  lalu kerajaan diturunkan kepada putranya Dipati Wiranata dan Dipati Wiranata mempunyai putra bernama Raden Saca Eyang dan kerajaan dilanjutkan hingga abad ke – 17.
Kerajaan dihilangkan karena penjajahan, dan pada waktu itu kerajaan Talaga dirubah menjadi Kabuptaen. Raden Sacanata Eyang meninggalkan kepangkatannya dan diturunkan kepada putranya Arya Saca Nata, setelah itu kabupaten dipindahkan ke Majalengka yang bertempat di Sindang Kasih.
Waktu Kabupaten dipindahkan Bupati Raden Sacanata menolak sampai beliau dipensiunkan. Beliau mempunyai satu putra bernama Pangeran Sumanegara. Pangeran Sumanegara mempunyai putri  bernama Nyai raden Anggrek dan memilki suami bernama Kertadilaga Dicikifai Talaga.
Sampai sekarang keturunanannya masih ada, menjaga (memlihara) barang – barang kuno keturunan Raja Talaga. Barang kuno tersebut masih ada seperti : baju kere, Arca – arca, gamelan, tuah meriam, bedil sundut dan lain – lain. Adapun bekas keratonnya sudah diubah menjadi Rumah Tembok, pintu dan dindingnya saja yang terbuat dari ukiran kuno, dimiliki oleh keturunannya.  
Nah begitulah cerita Situ Talaga Sangiang. Kenapa ikan lele itu tidak bisa dimakan. Selain itu, disana juga masih ada tempat duduk peninggalan kerajaan yang terbuat dari batu, dan makam Kramat Sunan Parung yang sampai saat ini pun tak sedikit orang yang berjiarah kesana.

Pecinta coklat / buku/ Sedang mengejar mimpi untuk keliling Indonesia. Blog ini merupakan salah satu wadah menuangkan kisah-kisah perjalananku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.