Waduk,  Wonderfull Indonesia

Waduk Cirata Bandung

Perjalanan kali ini tertuju ke salah satu daerah yang terdapat di Kota Bandung menuju waduk Cirata Bandung. Ternyata disaat lagi galau pergi berkelana jauh bukan pilihan yang salah. Mencoba meredam emosi atas semua kemunafikan yang didapat, memberikan berjuta pelajaran berharga. Dengan nekatnya pergi ke Bandung sendirian. Walau sudah terbiasa, namun diperjalanan kali ini aku bener – bener shock banget.

Kisah Selama di Perjalanan ke Waduk Cirata Bandung

Pertama,

Miss communication dengan teman yang niatnya mau nganterin ke rumah saudara. Berhubung tiba di Bandung Magrib dan kata Saudaraku kalau udah Magrib gak ada mobil. Maklum rumah saudaraku ada dipelosok Bandung. Kesalahan komunikasi itu terjadi karena ponsel dua-duanya malah mati. Sial banget memang. 3 jam berdiri di terminal Cicaheum, perasaan sudah gak karuan dan pengin nangis. Waktu menunjukan semakin malam dan akhirnya  aku memutuskan  naik angkot jurusan Cicaheum-Ciroyom.
Tiba di sana, yg pertama aku cari tentunya konter Hp mau nebeng ngecas. Tapi, tuh bapak – bapak yang punya konter menatapku dengan wajah mengusir ketika bertanya seperti ini “Permisi Pak, saya boleh ikut ng’cas disini.” Dengan tegas bapak itu menjawab “Maaf tidak bisa neng.” melihat gerik si bapak yang aneh aku coba membujuk lagi “ayo, dong pak, penting banget nih.” dan akhirnya si bapak pun mengijinkan. dalam hati aku berkata “tenang aja pak, saya bukan perampok yang bakalan embat semua barang – barang yang ada di konter bapak. Dan saya juga bukan teroris yang bakaln bom konter bapak.”

Kedua

Dan memang benar setelah bertanya kepada si bapak pemilik konter bada Magrib sudah tidak ada angkutan umum lagi ke Cipeundeuy. Saat itu aku benar – benar bingung tapi alhamdulillah ada seorang pemuda pemilik kios yang menawarkan untuk bermalam di sana.
apa boleh buat daripada aku ngegembel terus diganggu sama pereman terpaksa terima tawarannya. Karena ada rasa takut yang menyelimuti dalam diri. Aku begadang semaleman sambil nungguin tuh si aa pemilik kios jaga tokonya. Setelah berbincang – bincang ternyata dia juga masih orang sunda tepatnya orang Majalengka. mendengar itu hati menjadi lega karena tuh orang emang benar – benar niat nolong dengan ikhlas. Pagipun datang, dan ada satu hal yang baru tersadar bahwa hari itu adalah perayaan Idul Adha. Otomatis gak ada mobil yang beroperasi. Terpaksa aku nunggu sampe jam 12 baru dapet mobil.
Akhirnya aku selamat sampe tempat tujuan di Cipeundeuy. D isana diajak maen ke Waduk Cirata yang tak begitu jauh dari rumah saudara. Udara yang berhembus menyelimuti seluruh tubuh. Kesejukan yang terasa menelusuk tajam kedalam hati, membuat sebuah ketenangan yang waktu itu tengah hancur. Keindahan alam yang luar biasa, tawa riang keponakan membuat semangat ini kembali bangkit.
Dari sana aku sadar bahwa saat terpuruk kita tak sendiri. Masih banyak orang disekeliling kita yang peduli dan sayang dengan kita. Termasuk orang yang tidak dikenal sekalipun. Pelajaran hidup yang berharga yang aku alami ini tidak akan pernah terlupakan. Tuhan terimakasih atas semua anugrah yang Kau berikan untukku.

Pecinta coklat / buku/ Sedang mengejar mimpi untuk keliling Indonesia. Blog ini merupakan salah satu wadah menuangkan kisah-kisah perjalananku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.