Di zaman yang serba mengandalkan teknologi ini sebagai pengguna kita harus bijak bermedia sosial. Hal ini karena tidak ada kebebasan yang hakiki. Sosialisasi secara langsung dengan saling bertatap wajah ada hukum yang memayungi. Agar orang tidak sesuka jidat dalam melakukan hal yang dapat merugikan orang lain. Begitu juga dengan media sosial.
Ada undang-undang yang mengatur tentang teknologi yaitu UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) No. 11 Tahun 2008 yang beberapa pasalnya ada perubahan sesuai UU No. 19 Tahun 2016. Di mana undang-undang tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yaitu tentang hal-hal yang berhubungan dengan informasi dan transaksi elektronik dan tentang hal yang dilarang. Bertujuan agar setiap orang mendapat suatu keadilan, rasa aman dan kepastian hukum. Pun, untuk mengontrol diri atas tindakan yang dapat merugikan orang lain. Sehingga sebagai negara hukum segala sesuatu harus ada aturannya.
Agar bijak bermedia sosial 5 hal berikut ini perlu diketahui untuk dihindari. Mohon jangan dianggap remeh, ya.
Contents
5 Hal yang Harus Dihindari agar Bijak Bermedia Sosial
-
Menebar Hoax
Media sosial dapat diakses oleh siapa saja. Tidak mengenal pengguna ini seorang jurnalis atau tidak. Dengan kemudahan menggunakan akses ini setiap orang menjadi jurnalis dadakan yang tidak ada larangannya untuk menginformasikan sesuatu. Namun karena kebebasan inilah tidak semua berita yang didapat di medsos adalah fakta. Sulit membenarkan yang nyata atau tidak. Karenanya harus pandai dalam memilah dan memilih informasi mana yang perlu dicerna dan di share ke pengguna medsos lainnya. Walau kita tidak menuliskannya, akan menjadi salah satu pelaku yang termasuk menyebarkan berita bohong tersebut. Apalagi kita yang menuliskannya, duh jangan ya!
Dibandingkan menebar berita hoax yang kebenarannya patut dipertanyakan, lebih baik berbagi hal yang memiliki manfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Ketahuan menyebar hoax dan sampai mencemarkan nama orang lain ada hukumnya, loh. Sesuai peraturan UU ITE pencemaran nama baik yang diatur pada pasal 28 ayat (2).
Baca Juga : Menulis Blog untuk Berbagi dan 3 Manfaat yang Didapat
-
Menebar Kebencian
Media sosial menjadi wadah yang empuk untuk orang-orang yang justru dimanfaatkan pada hal-hal yang tidak baik. Seperti menebar kebencian. Cukup dengan membuat status yang akan memihak si penebar maka yang lain bahkan orang yang tidak tahu faktanya bisa terpengaruh. Apalagi di tahun politik seperti saat ini. Kubu 1 dan 2 saling menyerang. Ah, padahal dari pada sebar kebencian, saling caci-maki, lebih baik menunjukan kebaikan alasan harus berpihak ke 1 dan 2.
Dalam kasus lainnya war antara full mom dan working mom. Sebetulnya kalau disatukan, keduanya bisa saling melengkapi. Full mom bisa berbagi pengalaman mengurus anak seharian penuh. Working mom juga bisa sharing dalam management waktu.
Banyak hal-hal yang dari pada menciptakan kebencian. Lebih baik saling berpangku tangan. Saling mendukung dan melengkapi. Jadi teringat perkataan managerku.
Kelebihan kita bisa menjadi kekurangan orang lain. Dan kelebihan orang lain bisa menjadi kekurangan kita.
Baca Juga : 7 Tema Blog yang Mendapatkan PV Tinggi
SARA singkatan untuk Suku, Ras dan Antar Golongan. Di mana keberagaman suatu negara harus dilindungi agar tidak menimbulkan perpecahan. Di Indonesia yang beragam suku, ras dan agama disatukan dalam Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti walau berbeda namun tetap satu.
Jika tidak ada Bhineka Tunggal Ika, entah apa yang akan terjadi dengan Indonesia. Untuk merdeka saja mungkin akan sulit. Tapi diberi kebebasanpun, bukan berarti bebas dalam segala hal. Apalagi dalam menjaga lisan yang dalam aplikasinya begitu sulit. Salah ngomong sedikit saja yang mengandung SARA akan berakibat fatal.
Teman-teman pasti tahu sendiri dengan apa yang terjadi saat Pak. Ahok lidahnya keseleo. Ribuan umat islam menyatu dalam sebuah demo besar. Karenanya kita juga harus lebih bijak bermedia sosial. Jangan sampai mengandung SARA jika tidak ingin berujung dibalik jeruji. Apa pun alasannya, dalam keadaan sadar atau tidak harus lebih berhati-hati.
-
Curhat Aib Sendiri/Keluarga
Hayo, siapa yang suka curhat di medsos? Tidak dipungkiri waktu muda dulu, jatuh cinta posting di medsos. Ada masalah dikit share di Facebook. Putus juga posting kegalauan hingga berhari-hari. Tapi sekarang sih, sudah lebih bijak. Belajar merem jempol saat tengah galau gulana. Jangam sampai permasalahan yang begitu sensitif diumbar di dunia maya. Karena ada orang yang memang benar-benar peduli, ada yang sok iba tapi sesunguhnya mentertawakan. Ada juga yang sekedar kepo untuk bahan gosip doang. Hati-hatilah! Pokonya ngeri jangan sampai aib kita malah membuat kita semakin terpuruk.
Dulu handphone yang memiliki kamera itu hanya untuk produk dengan harga selangit. Sedangkan sekarang dengan budget pas-pasan bisa membeli handphone yang memiliki kamera canggih. Sehingga kapan saja bisa cekrek-upload. Tidak masalah kalau jepret hal-hal yang tidak merugikan siapa pun. Namun, saat ada kecelakaan, dijepret langsung share di sosial media sebaiknya pertimbangkan dulu. Karena kita harus memahami perasaan keluarganya. Siapa yang suka saat ada salah satu keluarganya meninggal karena kecelakaan lalu fotonya tersebar di dunia maya? Aku yakin banyak yang tidak nyaman.
Tidak semua hal pantas disebar di lini masa media sosial kita. Perlu di saring terutama soal foto. Selalu tanamkan dalam diri agar bijak bermedia sosial.
Saat bermedia sosial jangan sampai melakukan 5 hal di atas. Karena yang lebih rugi sebetulnya diri kita sendiri. Media sosial lebih baik digunakan untuk hal-hal yang positif. Berbagi berita yang menginspirasi, mengedukasi, menghibur.
Selalu ingat!
Mulutmu adalah harimaumu.












Kebanyakan karena memang pengen dianggap eksis, melakukan segala cara, bahkan melanggar semua hal diatas. Ujungnya malah jadi bumerang buat kita kan. Bener banget deh, memang harus sebijak mungkin, menahan diri dari hal-hal yang gak bermanfaat di sosmed, biar gak kena getahnya
Alhamdulillah aku menghindari 5 itu juga. Jangan sampai keasyikan sosmed malah rugiin diri sendiri
Hihi jadi tertohok. Aku banget itu dulu suka posting galau, posting mom war, posting curhat, hedeh. Untung setelah jadi blogger jadi lebih bijak. Masih banyak hal lain yang bisa diposting dan lebih bermanfaat
Bener Mbak. Apalagi No. 4 tu. Bisa banget ngejatuhin diri sendiri. Kadang bukannya dapet solusi, malah bikin hati makin terpuruk dengan komentar sebagian orang.
Aku juga sedang berusaha banget pakai sosmed dengan bijak. Masih belajar.
Sama mba, aku juga masih belajar karena terkadang gatal juga pengin koar-koar. Belajar meredam emosi.
setuju banget dengan 5 hal di atas mba
Bijak bermedia sosial ya, mba.
Setuju banget, paling malas kalau ada yang sebar 5 hal di atas auto block
Malah bikin kesal sendiri ya, mba. Aku sering berkata dala hati “lebay banget si”.
Alhamdulillah, di timelineku gak ada yg pernah nge-share musibah kecelakaan macam2. Tapi, aku taunya dari tetangga, biasanya pas ngobrol “Kemarin ada yg kecelakaan trus mayatnya gini gini gini,” Huaaaaa, dijelasinnya aja ngilu. Untungnya gak sampai ditunjukkin gitu sih karena aku orangnya phobia liat accident.
Aku sering mba lihat orang kecelakaan pas depan mata, tapi gak berani foto atau video. Cukup mendoakan saja.
sepakat semuanya mba apalagi utamanya yang suka ngeluh dan umbar aib keluarga beuh aku langsung remove hahahaha
sekarang sih di timeline masih seliweran yang politik masih aku liatin aja tapi kalau keterlaluan wes ta unfollow
tahun politik si, mba. AKu suka gemes tapi sabar saja deh. Makanya jarang buka sosmed sekarang.
Kadang orang terburu-buru dalam menyebarkan berita, hanya demi like dan viral…sedih
Setuju, mba. Sudah terjangkit penyakit ingin tenar secara instan.
Ites setuju dengan 5 poin di atas, apalagi poin no 4 kadang suka lucu sendiri kalau ada orang buka aib keluarga sendiri saling sindir padahal itu gambaran dirinya sendiri ya…nyampah itu 🙂
Iyah, mba. Kok aib sendiri diumbar. Kita mah jangan sampai.
Nomer lima bener banget mba, aku suka mules kalo ada ang share begituan.
Bukane apa-apa ya, ya gimana ya. kasihan di share, ada yang kayak aku kadang bisa sampe ga doyan makan atau semacam trauma. Semoga selalu bijak dalam bermedia sosial kita. dan dilindungi dari hal-hal yang berbahaya
Yes, mba. Manfaatkan medsos untuk yang baik-baik saja.
Sepakat Kak Erin!
Medsos emang menyenangkan, tapi kita juga harus punya kontrol diri yang jelas, Tau mana yang boleh diupload, mana yang tidak. Ada batasan! 🙂
Seuju Kaka Penyiar. 😀
Setuju banget sama tulisan ini. Seandainya semua netizen bisa bijak, pasti akan nyaman, deh
Betul, mba. Tapi yahh…. sifat orang beda-beda ya mba, susah.
Aku heran deh jelang tahun 2019 masih banyak aja yang share berita hoax. Sedihnya lagi banyak yang percaya. Padahal kan ya harusnya think before share ya
Justru sekarang malah senang berita hoax sepertinya mba. Tanpa dibaca asal share sajah.
Poin 4 tuh yg suka bikin gemes. Curhat sampe kaya cerpen di fesbuk, semua kekurangan orang diumbar, abis itu berbalas status pula.
Hahaa… ada gemesnya, ada keponya juga.
Setuju semua, terutama nomer 5 itu aku paling nggak suka kalo ada yg share
harusnya lebih bijak ya, mba.
No 5 itu ngeselin, pdhl ya gak ada untungnya ya sebar2 foto gtu.
Eh kyknya semua ngeselin yaaa haha.
Medsos tu semacam jejak digital jd sebaiknya tinggalkan jejak yg baik2 aja…
Betul, mba. Bahaya kalau ada yang save dan suatu hari diangkat lagi statusnya yang mungkin akan merugikan diri sendiri.
Setuju sama semua poinnya. Alhamdulillah, aku sudah lumayan bijak bermedsos. Aku paling2 pasang status di WA. Lebih terbatas orang yang lihatnya. Wkwkwkkw…
sama, mba. Semenjak lulus kuliah aku lebih berhati-hati dengan medsos.
Sepakat banget dengan kelima hal di atas. Ga ada untungnya sama sekali mengunggah itu semua di media sosial kita. Yang ada malah ntar ngeselin ya kaaann…
iyes, Mba Uniek.
Nomor 4 paling menggelitik. Aku pernah menjadi bagian nomor 4, curhatin masalah diri sendiri. 😀 Tobaat, deh.
Haha… hayu, tobat mba. Aku juga pernah waktu zaman sekolah dulu. Tapi medsos dulu tidak seekstrem sekarang.
Sepakat dengan ke 5 poin di atas. Yang paling aku sebel itu poin no 5. Karena masih byk aja yg share biasanya
Maish mba. di timelineku itu sering kayanya.
Tapi sekarang ini masih banyak banget yang kayak gitu, kadang suka kesel sih sama yang nyebarin hoax atau bikin status sara.
Setuju, gemes banget.
Ini loo yang aku sedihkan kemarin.
Orang lebih memilih merekam kecelakaan daripada menolong orang yang sedang kecelakaan tersebut.
Mirriis yaa…
Pada gila jadi viral.
Pernah bahkan beberapa kali saya dan saudara-saudara terlibat cekcok gara-gara berita hoax yang sering dishare tanpa saring ke grup. Nyebelin sih. Jadi suka sewot kalau udah tahu berita hoax masih juga dibagi-bagi di grup.
Iya, ya mba. Apalagi di sharenya ke grup, duh jangan deh.
Nomor lima ini yang suka ngenesin, dan gak tahu gimana cara ngurangin prilaku rang orang yang demen kek gitu. 🙁
Memang susah mba, karena kemabli ke diri masing-masing.
selalu berusaha utk bijak di med sos, kadang suka gak terkontrol kalo di biasain gatel nyinyir dan sejenisnya
Betul mba, aku zamannya kuliah itu tidak terkontrol banget.