Stop Stigma dan Diskriminasi Penyandang Penyakit Kusta

stigma negatif penyakit kusta

Hingga saat ini Indonesia masih menduduki peringkat ke-3 untuk kasus penyakit kusta di seluruh dunia. Setiap tahun terdapat lima belas ribu hingga tujuh belas ribu pasien penyandang kusta. Sedihnya walau Orang yang Pernah Mengalami Kusta atau OYPMK sudah sembuh masih mendapat diskriminasi dan stigma negtaif dari masyarakat.

Faktanya, setelah aku mengikuti talkshaw Ruang Publik KBR yang membahas mengenai Kesempatan Kerja Bagi Disabilitas dan Bekas Penyandang Kusta bahwa OYPMK jika sudah sembuh tidak akan lagi menularkan kusta. Oleh sebab itu, penting sekali untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas mengenai penyakit kulit satu ini. Terlebih masih banyak juga yang awam dengan kusta, cara penyebaran dan penanganannya.

Apakah Penyakit Kusta Berbahaya?

disabilitas penyandang penyakit kusta
Talkshaw Ruang Publik KBR Live Youtube

Kusta adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, sehingga memiliki nama lain yaitu penyakit lepra. Di mana cara penularan kusta melalui cairan droplet yang ke luar saat dahak atau bersin. Walau begitu bukan berarti penyakit kusta menular dengan cara yang mudah seperti virus corona.

Kusta akan menular jika seseorang mengalami kontak atau terkena cairan droplet secara terus menerus. Sedangkan jika kita bersalaman atau duduk bersama tidak akan tertular. Termasuk jika penderita sedang hamil maka tidak akan menularkannya kepada janin karena bukan penyakit genetik turun-temurun. Penyebabnya adalah bakteri leprae memerlukan waktu yang lama untuk berkembang biak di dalam tubuh manusia.

Resiko tertularnya penyakit kusta terjadi saat kontak dengan hewan yang menyebarkan bakteri kusta seperti simpanse, berkunjung ke suatu wilayah yang merupakan kawasan endemik kusta dan memiliki gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Walau begitu kita tetap harus waspada jika memiliki gejala berikut.

Gejala penyakit Kusta

  • Mengalami mati rasa pada kulit diantaranya tidak merasakan suhu, sentuhan, tekanan dan rasa sakit.
  • Muncul bercak putih/merah yang berwarna lebih terang dan menebal di kulit.
  • Muncul luka tetapi tidak dapat merasakannya.
  • Pembesaran saraf di siku dan lutut.
  • Otot tangan dan kaki melemah.
  • Alis dan bulu mata menghilang.
  • Mata menjadi kering dan jarang mengedip.
  • Mimisan, hidung tersumbat dan kehilangan tulang hidung.
  • Mencegah Penyakit Kusta

Kusta tidak sama dengan penyakit kulit pada umumnya seperti gatal atau panu karena jika dibiarkan akan berakibat fatal. Seperti pemaparan Mas Angga Yuniar selaku Manager Proyek Inklusi Disabilitas NLR Indonesia yang menyatakan bahwa jika terlambat penanganan terhadap penderita kusta maka akan menjadi disabilitas.

Hal tersebut karena penyakit kusta parah dapat menyerang saraf yang akan memengaruhi fungsi sensorik, motorik dan saraf-saraf otonomi sehingga mengalami deformitas dan kelainan struktur tubuh.

Bagaimana cara mencegah penyakit kusta?

  • Jika mengalami gejala di atas atau faktor resiko segera menghubungi dokter untuk melakukan penanganan lebih dini jika memang menderita kusta.
  • Pengobataan bagi penderita kusta dengan Multi Drug Therapy (MTD) dengan pemberian obat antibiotk dan operasi yang sebagai penanganan lanjutan setelah pengobatan dengan antibiotic tersebut.

Stigma Masarakat Terhadap OYPMK

Pandangan masyarakat terhadap penyandang kusta walau sudah sembuh masih saja mendapat stigma yang buruk bahwa OYPMK memiliki potensi untuk menularkan. Terlebih jika OYPMK mengalami disabilitas maka pandangan negatif akan terus melekat seumur hidup mereka. Selain itu tidak sedikit masyarakat yang beranggapan nahwa kusta adalah penyakit kutukan Tuhan.

Stigma itu sendiri tidak hanya hadir di masyarakat, melainkan pada diri penderita yang dapat memengaruhi psikolog OYPMK maupun pasien kusta bahwa penyakit yang diderita mereka tidak baik, sehingga menimbulkan rasa yang tidak menyenangkan.

Oleh sebab itu penting sekali untuk memberikan edukasi kepada masyarakat secara luas agar tidak ada lagi stigma buruk yang berkembang. Sehingga OYPMK dan penyandang disablitaslainnya memiliki kesempatan kerja secara berkelompok, bukan hanya bekerja secara mandiri.

Kesempatan Kerja untuk Penyandang Disabilitas dan OYPMK

peluang kerja penyandang penyakit kusta

Membahas mengenai peluang kerja bagi penyandang disabilitas OYPMK, NLR Indonesia memiliki program untuk membantu para OYPMK dalam meningkatkan penerimaan diri dan kepercayaan diri, serta mebekali keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan.

Pemagangan dari NLR Indonesia akan mulai pada bulan Juli dan Agustus 2021 di mana ada 3 orang kandidat yang akan terpilih mendapatkan edukasi mengenai manajemen perencanaan dan pengelolaan proyek, administrasi dan pengelolaan keuangan, dan mobilisasi sumber daya dan penggalangan dana. Di mana tiga aspek tersebut merupakan skill dasar yang harus dimiliki.

Program dari NLR Indonesia tentunya akan membantu OYPMK lebih siap dalam menghadapi tantangan dunia kerja secara tim. Bahkan berdasarkan cerita Mba Zukirah Ilmiana owner PT. Anugrah Frozen Food dengan senang hati menerima pemagang OYPMK. Salah satu pemagang yang bekerja di perusahaannya cepat tanggap saat mendapat penjelasan mengenai tugasnya.

Ya, pada dasarnya OYPMK sama dengan manusia normal yang memiliki hak sama untuk dapat bekerja secara kelompok pada sebuah perusahaan. Penerimaan yang baik oleh penyedia lapangan pekerjaan terhadap OYPMK memberikan kesan tersendiri. Salah satu penyandang OYPMK Mas Arfa yang pernah mendapat kesempatan magang di Satpol PP Makasar.

Mas Arfa merasa senang karena mendapat pengalaman dan kesempatan untuk bekerja. Tidak kalah senang karena diajarkan cara membuat absen, menulis nomor surat, menggunakan micrisoft word dan excel. Kendala yang dialami pengaruh jarak dan kendaraan yang jauh dari tempat tinggal menuju lokasi kerja.

Penutup

Dari pengalaman Mas Arfah berharap kedepannya baik individu, masyarakat, kelompok profesi dan institusi agar tidak lagi melakukan diskriminasi terhadap OYPMK. Cara yang bisa kita lakukan adalah dengan menjaga konsep bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang baik dan memiliki derajat sama, banyak membaca untuk membekali diri terhadap kondisi seseorang dan melakukan komunikasi publik untuk memunculkan kebijakan mengurangi stigma.

Jika hal tersebut tercapai maka kita akan saling menghargai dan memberi kesempatan kerja kepada OYPMK. Nantinya memang harus ada hal yang perlu mendapat perhatia lebih terhadap fasilitas bagi penerima kerja OYPMK. Seperti menyediakan sarung tangan karena penyandang kusta tidak dapat merasakan panas dan lainnya.

Yuk, stop stigma buruk dan diskriminasi terhadap penyandang penyakit kusta. Serta, berikan kesempatan kerja kepada OYPMK di lingkungan kerja di perusahaan maupun institusi.

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.