Wisata Kampung Adat Baduy Banten
Wonderfull Indonesia

Wisata Kampung Adat Baduy Banten Salah Satu Wisata Alam dan Budaya

Pernah berwisata ke kampung adat baduy yang berada di Banten? Nah, buat kamu yang bingung mau liburan kemana, bisa pilih Banten sebagai salah satu destinasi wisata. Tidak hanya pantainya yang terkenal, di sini tepatnya di Kabupaten Lebak ada sebuah kampung yang masih menjaga adat-istiadat leluhur.

Di mana orang Baduy atau disebut juga sebagai Urang Kanekes ini mengasingkan diri dari kehidupan luar. Hidup mereka masih tradisional karena menggunakan peralatan teknologi adalah sebuah larangan. Terkecuali untuk Baduy Luar yang menerima perkembangan zaman.

Masyarakat Baduy Luar boleh memiliki gawai, mengenakan pakaian yang selain ditenun atau dijahit, mengenakan sandal dan lainnya seperti kehidupan masyarakat saat ini.

Berbeda dengan Baduy Dalam yang tetap menjaga adat dengan hidup sesuai yang diturunkan oleh para leluhur. Sehingga jika berkunjung ke sana semua barang-barang elektronik akan diamankan. So, buat kamu yang berniat liburan ke sini hanya untuk selfie ria atau sekedar pamer di medsos bukan tempat yang cocok.

Wisata ke Kampung Adat Baduy untuk Bercengkrama dengan Alam

Wisata ke Baduy adalah untuk kamu yang benar-benar ingin menikmati perjalanan wisata yang menyatu dengan alam. Karena akses menuju Baduy Dalam tidak bisa ditempuh dengan kendaraan umum. Wisatawan harus hiking, mendaki gunung, masuk ke dalam hutan. Bahkan di Baduy Dalam kamu tidak bisa mandi di sungai menggunakan sabun. Aku jadi teringat zaman kecil dulu, mandi itu pakai daun jambu. Haha… emang zaman old banget, anak 90’an pasti ngerti.

Baduy Dalam memang sangat menjaga kelestarian alam sehingga tempat tinggal mereka tidak boleh tercemar benda-benda asing dari luar. Pakaian mereka saja kalau tidak ditenun, harus dijahit. Warnanya pun hanya putih/hitam/biru tua. Dari orang dewasa hingga anak-anak mengenakkan pakaian dengan warna dan corak yang sama. Entah kenapa melihatnya itu rapih. Terutama warna biru tua yang sangat cocok dikenakan penduduk sana yang berkulit putih.

Pola hidup sederhana yang bergantung pada alam, namun tetap menjaga kelestarian lingkungan adalah hal yang luar biasa menurutku. Sekarang ini hutan-hutan beralih fungsi menjadi pemukiman warga atau ladang sehingga membuat daya serap air berkurang. Wajar jika bencana tanah longsor dan banjir kerap menjadi pelengkap saat musim penghujan datang.

Beda jika berkunjung ke Baduy yang akan kamu dengarkan bunyi alu yang beradu dengan lesung saat menumbuk padi. Kicauan burung yang merdu di atas pohon dan paduan suara alam yang sangat minim didengar terutama untuk yang tinggal diperkotaan. Bukan bunyi-bunyi jangkrik buatan maupun desing bunyi metal yang dapat memecahkan telinga. Di sini hanya suara alam yang akan didengar.

Terbayar bukan walau tidak dapat membawa barang elektronik masuk? Sekali-kali kita melepas kehidupan modern dan menikmati hidup apa adanya. Hidup sederhana dengan mengikuti norma yang sudah ditentukan di sana, seperti beberapa hal yang harus kamu catat sebelum berkunjung ke Baduy.

Baca Juga : Taman Bunga Pandeglang, Pelangi di Daratan yang Mempesona

Tata Tertib Untuk Pengunjung

  1. Tidak membawa barang elektronik
  2. Tidak membuang sampah sembarangan.
  3. Tidak membuang puntung rokok yang masih menyala.
  4. Pengunjung dilarang memasuki Hutan Larangan.
  5. Lelaki dan wanita dilarang menginap dalam satu atap. Kecuali suami istri.
  6. Orang luar negeri tidak diperbolehkan masuk ke Baduy Dalam.
  7. Yang bermaksud melakukan penelitian harus membawa surat penelitian dari lembaga masing-masing.

Adapun aturan lainnya yang perlu digaris bawahi bisa cek gambar di bawah ini.

norma saba budaya banten

Baca Juga : Cari Restoran Instagenic? Kunjungi Saja My Kopi-O Serang

Berkunjung ke Baduy adalah Mengenang Masa Kecil

Buatku yang belum sempat menjamah Baduy Dalam mengingatkan pada masa kecil yang selalu dirindukan. Kehidupan tradisional yang aku temui di Baduy Luar ini membawaku pada ingatan terdalam yang tidak akan terlupa.

Salah satunya adalah menumbuk padi secara tradisional. Saat kecil aku sering melakukannya saat membantu orang tua. Alat tradisional yang akhirnya tergerus dengan alat yang lebih modern.

padi huma baduy

Hal lainnya adalah padi huma yang orang sunda sebutnya pare ranggeyan. Padi tersebut ditanam di huma dengan memanfaatkan air hujan. Sistemnya berbeda dengan sawah. Cara panennya pun saat padi menguning dan merunduk menggunakan alat bernama ani-ani. Jangan tanya juga nih karena saat SD sering banget panen padi huma.

Semua hal yang berbau tradisional di sana memang membawaku terbang pada kenangan di masa silam. Suatu hari akan berkunjung ke sini lagi untuk mengenal lebih dalam masyarakat Baduy Dalam. Menunggu si Bule besar. Hoho. Mengajak anak dua tahun itu perlu tenaga lebih ekstra tidak bisa dadakan. Sedangkan saat berkunjung kemarin tuh memang super dadakan.

Tertarik ke Baduy? Hayu atuh. Tidak ada salahnya sesekali berlibur ke kampung adat Baduy sebuah tempat yang mengisolasikan dari kehidupan luar. Di sana tidak hanya ketentraman yang akan diterima melainkan bagaimana kita bisa menghargai alam yang menjadi sumber utama kehidupan manusia.

Pecinta coklat / buku/ Sedang mengejar mimpi untuk keliling Indonesia. Blog ini merupakan salah satu wadah menuangkan kisah-kisah perjalananku.

35 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.